Kamis, 03 Juni 2010

Arab-American Psychologist Wafa Sultan


Arab-American Psychologist Wafa Sultan: There Is No Clash of Civilizations but a Clash between the Mentality of the Middle Ages and That of the 21st Century

Following are excerpts from an interview with Arab-American psychologist Wafa Sultan. The interview was aired on Al-Jazeera TV on February 21, 2006.

Wafa Sultan: Benturan yang kita saksikan di belahan dunia bukanlah benturan antar agama, atau benturan peradaban. Ini adalah benturan antar musuh, antar dua jaman. Ini adalah benturan antar sebuah mentalitas dengan pemahaman ke Abad Pertengahan dan mentalitas satunya dengan pemahaman abad XXI. Ini adalah benturan antar peradaban dan keterbelakangan, antara yang beradab dan primitif, antara kebiadaban dan rasionalitas. Ini adalah benturan antar kemerdekaan dan penindasan, antar demokrasi dan kedikdatoran. Ini adalah benturan antara hak asasi manusia, di sisi lain, dan pembatasan hak asasi tersebut, pada sisi satunya. Ini adalah benturan antara mereka yang memperlakukan perempuan seperti binatang, dan yang memperlakukan perempuan selayaknya manusia. Yang kita saksikan saat ini bukanlah sebuah benturan peradaban. Peradaban tidak berbenturan, tetapi bersaing.

Host: Dari kalimat itu saya memahami bahwa yang terjadi saat ini adalah benturan antara kebudayaan Barat, dan keterbelakangan dan keputusasaan kaum Muslim?

Wafa Sultan: Ya, itu yang saya maksudkan. [...]

Host: Siapa yang mengawali dengan konsep benturan peradaban? Bukankah Samuel Huntington? Ini bukanlah Bin Laden. Saya suka untuk mendiskusikan topik ini, jika tidak berkeberatan...

Wafa Sultan: Kaum Muslim yang memulai ungkapan tersebut. Kaum Muslim adalah yang memulai benturan peradaban. Nabi Islam bersabda: “Aku diperintah untuk memerangi orang-orang sampai mereka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ketika kaum Muslim memecah orang-orang dalam Muslim dan non-Muslim, dan menyerukan perangi yang lain sampai mereka beriman kepada yang mereka imani, merekalah yang memulai benturan ini, dan memulai perang ini. Dengan perintah memulai perang, mereka harus meneliti kembali buku-buku Islam dan riwayatnya, yang penuh seruan-seruan kepada takfir dan memerangi orang kafir.

Mitra saya mengatakan bahwa dia tidak pernah menyerang keyakinan orang lain. Apa peradaban di muka bumi ini membiarkan dirinya menyebut orang lain dengan nama-nama yang tidak mereka pilih untuk dirinya? Sekali lagi, dia menyebut Ahl Al-Dhimma, di lain waktu dia menyebut mereka “Masyarakat Kitab,” dan tidak lama kemudian dia membandingkan mereka dengan kera dan babi, atau dia menyebut orang Kristen “orang yang dilaknat allah-nya.” Siapa yang memberitahukan Anda bahwa orang Kristen adalah “Masyarakat Kitab”? Mereka bukan Masyarakat Kitab, mereka masyarakat banyak Kitab. Segala buku ilmiah yang berguna yang Anda miliki sekarang itu milik mereka, buah kebebasan mereka dan hasil olahan pemikiran mereka. Apa yang memberikan Anda hak menyebut mereka “orang yang dilaknat allah-nya”, atau “orang yang tersesat”, dan lalu kemari dan mengatakan agamamu memerintahkan perintah kepadamu untuk menahan diri dari penyerangan keyakinan orang lain?

Saya bukan seorang Kristen, seorang Muslim, atau seorang Yahudi. Saya seorang manusia keduniawian. Saya tidak percaya pada keajaiban, tetapi saya menghormati hak mereka untuk beriman.

Dr. Ibrahim Al-Khouli: Apa Anda seorang murtad?

Wafa Sultan: Anda dapat mengatakan apapun yang Anda mau. Saya seorang manusia keduniawian yang tidak percaya pada keajaiban...

Dr. Ibrahim Al-Khouli: Jika Anda seorang murtad, tidak ada masalah menuntutmu, sejak Anda menghujat melawan Islam, Nabi, dan Qur’an...

Wafa Sultan: Ada hal-hal pribadi yang tidak Anda perhatikan. [...]

Wafa Sultan: Saudaraku, Anda dapat mengimani batu-batu, sejauh Anda tidak melemparkannya kepadaku. Anda dapat bebas menyembah siapa saja yang Anda mau, tetapi keyakinan orang lain
tidak Anda perhatikan, mereka yang saat ini mengimani Mesias adalah Allah, putera Maria atau Setan adalah Allah, putera Maria. Biarkanlah mereka dengan keyakinannya. [...]

Wafa Sultan: Orang-orang Yahudi berasal dari peristiwa memilukan (dari Holocaust), dan menekan dunia untuk menghormati mereka, dengan pengetahuan mereka, bukan dengan terornya, dengan karya mereka, bukan dengan tangisan dan teriakan. Kemanusiaan berhutang pada lebih banyaknya penemuan dan ilmu pengetahuan abad XIX dan XX dengan ilmuwan Yahudi-nya. 15 juta orang, tersebar melalui dunia, bersatu dan memenangkan hak mereka melalui karya dan ilmu pengetahuan. Kita tidak pernah melihat seorang Yahudi meledakkan dirinya di sebuah restoran Jerman. Kita tidak pernah melihat seorang Yahudi menghancurkan sebuah Gereja. Kita tidak pernah melihat seorang Yahudi menyanggah tentang orang-orang yang terbunuh. Kaum Muslim mengubah tiga patung Budha menjadi puing-puing. Kita tidak pernah melihat seorang Budha membakar sebuah masjid, membunuh seorang Muslim, atau membakar sebuah kedutaan. Hanya kaum Muslim yang mempertahankankan iman dengan membakar gereja-gereja, membunuhi orang-orang, dan merusak kedutaan-kedutaan.
Inilah perjalanan yang tidak akan membuahkan hasil. Kaum Muslim haruslah bertanya kepada diri mereka yang mereka dapat perbuat demi umat manusia, sebelum mereka meminta umat manusia menghormati mereka.

********
Jesus, Buddha, Gurus Sikh, Baha’i, & Karl Marx can be compared because of they teach love & justice.

It is different wih Muhammad.

I read Koran, Hadith, and Sira and found that Muhammad is a ROBBER, MURDERER, TERRORIST, PEDOPHILE, NECROPHILE, CHILD MOLESTER, DAUGHTER-IN-LAW MOLESTER, AUNT MOLESTER.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar